Smart Listeners, pernah nggak sih ngerasa kalau siang panas banget, tapi pas malam malah harus selimutan? Ternyata kondisi itu ada nama dan penjelasannya lho, Smart Listeners. Yuk simak penjelasan di bawah!

Belakangan ini, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sedang diselimuti cuaca yang menantang. Memasuki puncak musim kemarau, masyarakat DIY mulai merasakan perubahan suhu yang cukup signifikan. Pada siang hari, terik matahari terasa begitu panas bahkan bisa mencapai suhu 32 derajat yang tentunya membuat suasana menjadi sangat tidak nyaman. Sebaliknya, pada malam hari, cuaca berubah sangat drastis menjadi dingin hingga mencapai suhu 19 derajat. Fenomena inilah yang kemudian dikenal dengan istilah bediding. Kondisi ini semakin diperkuat oleh angin Monsun Australia yang membawa massa udara kering dan dingin ke wilayah selatan Indonesia, termasuk salah satunya yaitu Yogyakarta.

Kondisi tubuh terserang flu akibat penurunan suhu drastis selama fenomena bediding.  (Source : unsplash.com)

Fenomena bediding ini kemudian mendapat perhatian dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta yang telah menyampaikan peringatan dini agar masyarakat dapat meningkatkan kewaspadaannya. Hal ini dikarenakan selisih suhu yang signifikan akan berdampak pada kondisi lingkungan sekitar dan kesehatan tubuh. Udara kering dan berdebu dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), batuk, flu, serta iritasi saluran pernapasan. Sementara itu, suhu yang tinggi pada siang hari juga dapat menyebabkan dehidrasi hingga heat stroke, terutama pada anak-anak, lansia, dan masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan. 

Sebagai langkah antisipasi, masyarakat diimbau untuk mengenakan pakaian hangat pada malam hingga pagi hari, tetap memenuhi kebutuhan cairan tubuh, mengonsumsi makanan yang bergizi, memakai masker ketika berada di lingkungan yang berdebu, serta mengurangi kegiatan di luar ruangan saat suhu siang hari sedang tinggi jika memungkinkan.

Kondisi lingkungan mengering akibat musim kemarau. (Source : unsplash.com

Selain berdampak pada kesehatan, musim kemarau juga dapat meningkatkan potensi kebakaran. Kondisi vegetasi yang mengering, ditambah suhu udara yang tinggi dan tiupan angin, membuat api lebih mudah menyala serta cepat merambat. Untuk mengantisipasi hal tersebut, BPBD mengimbau agar masyarakat tidak membakar sampah sembarangan, tidak membuang puntung rokok di area yang kering, dan rutin memeriksa instalasi listrik di rumah agar tetap dalam kondisi aman.

Meskipun bediding merupakan fenomena yang terjadi hampir di setiap musim kemarau, masyarakat tetap perlu memperhatikan dampaknya. Selain menjaga kondisi tubuh di tengah perubahan suhu yang cukup ekstrem antara siang dan malam, masyarakat juga diimbau untuk mengurangi risiko potensi kebakaran yang meningkat akibat cuaca kering. Dengan kesiapan yang baik, risiko dan dampak yang ditimbulkan selama musim kemarau dapat diminimalkan. 

Penulis : Nazmah Aliya Rahmah

Editor: Enjang Wikantini

14 Juli 2026

Written by:

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *