Di usia yang semakin serius ini, rasanya banyak sekali beban yang kita tanggung, ya, Smart Listeners? Ingin sekali rasanya bercerita kepada teman. Tapi melihat mereka juga sibuk dengan urusan masing-masing, rasanya sungkan. Ada juga rasa takut kalau orang akan menilai cerita kita berlebihan. Di sisi lain, kita sudah tidak bisa memendam cerita ini sendirian. Lalu harus curhat ke siapa?
Nah, mungkin ini saatnya Smart Listeners belajar journaling. Tempat di mana kita bisa mengeluarkan semua emosi tanpa takut di-judge orang lain atau memberatkan temanmu. Smart Listeners pasti familiar dengan menulis di buku diary. Ya, kurang lebih seperti itulah journaling. Secara umum, journaling adalah kegiatan mencatat atau menuliskan pikiran, perasaan, pengalaman, ide, serta kejadian sehari-hari ke dalam sebuah media, seperti buku harian atau jurnal digital.

Journaling sendiri memiliki banyak manfaat, loh, Smart Listeners. Karena sifatnya tertutup, journaling bisa menjadi wadah untuk meluapkan berbagai emosi yang dirasakan. Baik itu rasa marah, sedih, cemas, maupun bahagia. Smart Listeners bisa menulis secara bebas dan jujur tanpa takut dihakimi. Tidak hanya menulis, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk merenungkan pengalaman hidup, memetakan masalah yang rumit, serta memahami situasi sulit dengan lebih baik. Oleh karena itu, journaling sangat direkomendasikan untuk proses refleksi diri.
Melalui journaling, seseorang juga sedang berdialog dengan dirinya sendiri untuk mengolah informasi, menyaring pikiran, dan mengenali diri lebih dalam. Hal ini juga mendasari mengapa banyak orang menggunakan journaling untuk mengevaluasi diri hingga meningkatkan rasa percaya diri.
Pada konteks yang lebih serius, journaling dianggap efektif sebagai salah satu terapi mental illness. Dalam jurnal Sohal et al., ditemukan bahwa seseorang yang melakukan journaling mengalami penurunan gejala kesehatan mental sebesar 5%, di mana manfaatnya sangat terasa pada pasien dengan gangguan kecemasan dan Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Untuk mendukung hal tersebut, studi ini mencatat dua bentuk utama journaling yang sering digunakan dalam psikoterapi, yaitu expressive writing (menuliskan pikiran dan perasaan terdalam) dan gratitude journaling (mencatat hal-hal yang disyukuri).

Untuk memulai journaling, Smart Listeners tidak butuh aturan yang rumit, kok. Bagi yang belum pernah sama sekali, kuncinya ada pada kebebasan berekspresi. Journaling bisa dimulai dengan menyiapkan buku catatan khusus dan pena yang nyaman. Setelah itu, pilih waktu yang tenang saat sedang sendiri.
Kalau bingung harus menulis apa, Smart Listeners bisa pakai metode expressive writing, cukup tuliskan apa pun yang ada di kepalamu selama 10 sampai 20 menit tanpa memikirkan struktur kalimat atau ejaan yang benar. Tumpahkan semua unek-unek, kekesalan, atau kecemasanmu secara jujur. Ingat, jurnal ini milikmu seorang. Tidak ada orang lain yang akan menghakimi atau menilai tulisanmu, jadi biarkan semuanya mengalir begitu saja.
Jadi, mulai sekarang, jangan dipendam lagi ya, Smart Listeners. Mulailah berdialog dengan dirimu sendiri, tuliskan apapun yang membuatmu sesak dan berat. Karena penyembuhan terbaik dimulai dari keberanian kita untuk jujur pada diri sendiri.
Penulis: As Syifa Dzihni Nafisa
Editor: Najwa Asyilah Aliaputri
