Smart Listeners tahu nggak? Wilayah Indonesia diberkati dengan kekayaan alam, lho! Salah satunya adalah lautan Indonesia. Luas lautan Indonesia membentang hingga 6,4 juta kilometer persegi, setara dengan 77% wilayah Indonesia itu sendiri. Luas sekali, bukan? Namun, kekayaan alam Indonesia yang satu ini tak luput dari adanya limbah. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memperkirakan total seluruh limbah di laut Indonesia mencapai 5,75 juta ton, dengan jaring insang menjadi jenis alat tangkap yang paling banyak mencemari perairan.

Tidak hanya di perairan, limbah juga tersebar ke ranah tekstil. Proses produksi dalam industri tekstil menghasilkan limbah cair yang mengandung pewarna. Limbah berwarna tersebut membutuhkan pengolahan sebelum akhirnya dibuang ke lingkungan. Pengolahan limbah ini diperlukan karena zat pewarna yang ada dalam limbah dapat menyebabkan air berubah warna dan menghambat masuknya cahaya ke dalam air. Selain itu, tingkat keasaman berlebih dalam limbah juga berbahaya untuk lingkungan.

Kedua jenis limbah tersebut tergolong sulit terurai sehingga menjadi permasalahan yang serius bagi lingkungan. Atas permasalahan limbah tersebut, BRIN, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Andalas menciptakan terobosan. Mereka meneliti bagaimana jaring ikan berbahan nilon yang merupakan limbah sulit terurai dapat dijadikan nanofiber. Nanofiber ini nantinya dapat digunakan untuk mengolah limbah pewarna tekstil. 

Tempat pewarnaan tekstil (Sumber: pexels.com)

“Alih-alih mengubah limbah ini menjadi produk bernilai rendah, kami mengolahnya kembali atau upcycling menjadi material nano fungsional berkinerja tinggi melalui proses electrospinning,” kata Muhammad Nasir, Peneliti Pusat Riset Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, dalam Forum e-Asia Joint Research Program 15th Joint Review Meeting  Annual Board Meeting.

Seperti yang disebutkan Natsir, inovasi tersebut memanfaatkan proses electrospinning, yaitu proses pembuatan serat yang sangat tipis menggunakan medan listrik bertegangan tinggi. Hasil electrospinning yang berupa serat berukuran sangat kecil akan dicampurkan dengan nanopartikel Titanium Dioksida agar dapat membantu mengurangi zat pewarna dalam limbah tekstil.

Pemaparan tim BRIN terhadap inovasi jaring nilon ke bentuk nanofiber dalam e-Asia Joint Research Program 15th Joint Review Meeting & Annual Board Meeting (Sumber: tempo.com)

Tim menguji material nanofiber pada limbah pewarna tekstil Methylene Blue dengan bantuan penyinaran ultraviolet. Nanofiber yang dicampur dengan Titanium Dioksida mampu mencapai degradasi hingga 88,68% dari tingkat keasaman pH 7 dalam satu jam. Struktur dalam nanofiber terbukti memaksimalkan radikal bebas yang memecah molekul pewarna. Molekul pewarna lalu terurai menjadi air dan karbon dioksida.

Riset dan inovasi ini tergolong efektif karena menggabungkan pemanfaatan limbah padat serta pengolahan limbah cair. Limbah jaring di perairan dapat berkurang serta limbah tekstil dapat diolah sehingga tidak membahayakan lingkungan. Sekali inovasi dapat mengatasi dua permasalahan pencemaran lingkungan.

Menarik bukan, Smart Listeners? Inovasi ini menunjukkan bahwa dengan pengolahan yang tepat, limbah tidak selalu berakhir menjadi sampah. Namun, dapat disulap menjadi sesuatu yang bernilai. Kepedulian pada lingkungan bukan hanya tugas yang berkuasa, tetapi tanggung jawab kita bersama. 

Penulis: Erfita Adelia

Editor: Hilyah Mezka Paradiba

15 September 2026

Written by:

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *