Momentum Hari Film Nasional, Senin, 30 Maret 2026 menegaskan bahwa film tak hanya menampilkan realitas tetapi sebuah produksi cara melihat. Penegasan ini dicetuskan dalam event SEENEMA yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Film dan Televisi (HIMAFISI) Suryakanta Akademi Film Yogyakarta pada 30-31 Maret 2026 di Jogja National Museum (JNM) Bloc. SEENEMA tahun ini berkolaborasi dengan JNM dan mengangkat tema “A Celebration of Cinema”. Hal ini menjadikan SEENEMA sebagai ruang yang menampilkan bahwa perayaan hari film bukan hanya untuk penikmat maupun pembuat film, melainkan masyarakat umum yang diajak melihat bahwa film merupakan hasil rangkaian proses kreatif.

Poster Film Pendek pada Lorong Pintu Masuk SEENEMA (Sumber: Dok. Pribadi/Adelia)
Selain menayangkan 10 film pendek, SEENEMA juga dimeriahkan dengan empat agenda besar lainnya. Layaknya perjalanan ruang ke ruang, hari pertama dibuka dengan SEENERUN yaitu lari sehat sejauh 4 km yang sekaligus menjadi pertanda dibukanya euforia perayaan untuk masuk ke rangkaian SEENEMA lainnya. SEENERUN dilakukan pukul 16.00-17.00 WIB mengitari area JNM Bloc. Rangkaian berikutnya menandakan perayaan film yang sebenarnya yaitu dengan screening lima film pendek karya para Filmmaker.
Setelah melakukan screening film, diadakan sesi Q&A serta talkshow yang menjadi penutup perayaan hari pertama bersama Suluh Pramuji. Suluh Pramuji, selaku Direktur Program KDM Cinema mengajak pengunjung untuk dapat memaknai bagaimana seorang filmmaker menggunakan film sebagai cara berpikir dan melihat dunia.
“Lakukan aktivitas film setiap hari,” ujarnya ketika moderator memintanya memberi satu kalimat untuk Hari Film Nasional.
Perayaan hari kedua pada Selasa (31/3/2026) dilanjutkan dengan sesi bedah buku dan diskusi publik bersama Dyna Herlina Suwarto sebagai penulis serta akademisi film. Sama seperti di hari pertama, pada hari kedua juga dilakukan screening lima film pendek. Film yang ditayangkan pada SEENEMA merupakan film yang memiliki kekuatan dalam perspektif terkait respon sosial.
Film yang ditayangkan di SEENEMA pun tak hanya film karya HIMAFISI Suryakanta sendiri, mereka juga membuka kesempatan untuk para Filmmaker mengajukan filmnya untuk ditayangkan pada acara SEENEMA ini. Hal ini disampaikan langsung oleh Agis Sri Adistra selaku Ketua Pelaksana SEENEMA 2026.
“Untuk film-film karena kita buka untuk umum juga, kita memberikan kesempatan, untuk teman-teman Filmmaker dari kampus lain kita ajak beberapa komunitas dan HIMAFISI HIMAFISI yang bisa mengirimkan filmnya disini jadi ada juga beberapa dari kita dan dari luar, biar combine aja,” ucapnya, Senin (30/3/2026).

Film-Film Pendek yang Ditayangkan di SEENEMA (Sumber: Instagram/@suryakanta_jfa)
Salah satu film yang ditayangkan pada SEENEMA adalah film Lamis karya Faras Sabian, mahasiswa Ilmu Komunikasi UPN Veteran Yogyakarta. Filmnya menceritakan tentang seorang mahasiswa akhir yang gemar mengkritisi pelanggaran hukum serta memiliki sifat yang besar mulut. Konflik pada film ini menjadi contoh dari kriteria film yang ditayangkan di SEENEMA yaitu memiliki perspektif terhadap respon sosial.
Pasca penayangan film, kembali digelar talkshow bersama Filmmaker dengan bahasan terkait efisiensi versus kualitas bersama Mandella Majjid dan Yusmita Akhirul. Pada momentum Hari Film Nasional ini, kedua narasumber menegaskan mengenai bagaimana menjaga kualitas film tanpa mengorbankan efisiensi. Setelah menjajaki ruang ke ruang dengan melihat film sekaligus membedah prosesnya, sampailah pada ruangan terakhir berupa perayaan dengan gigs. SEENEMA 2026 ditutup dengan penampilan band sebagai pelengkap kemeriahan dalam perayaan SEENEMA.

Hiasan Dokumentasi Cetak Proses Pembuatan Film (Sumber: Dok. Pribadi/Adelia)
Segala rangkaian yang dilakukan selaras dengan tema serta tujuan dari SEENEMA itu sendiri, merayakan hari film tak melulu soal menikmati film saja, namun juga memaknai proses dibaliknya. Dengan ini, Agis berharap masyarakat yang masih tabu maupun yang sudah sangat menyelami dunia perfilman dapat lebih melihat serta menghargai karya seni film begitupun juga dengan prosesnya.
“Karena mungkin untuk umum lebih sering nonton aja tapi gatau prosesnya seperti apa jadi di sini kita kasih space buat orang-orang melihat dan menghargai film tidak hanya sekedar menonton tapi tau gimana buatnya dan menghargainya gimana, ” sambungnya.
Tujuan ini disambut baik dengan antusiasme para pengunjung yang turut meramaikan berbagai rangkaian SEENEMA itu sendiri. Pengunjung bernama Angga yang merupakan pecinta film mengaku bahwa ia tertarik datang ke event SEENEMA setelah mengetahui informasi dari media sosial, ia penasaran akan proses dibaliknya dan bagaimana bentuk apresiasi yang diberikan kepada para Filmmaker.
“Mungkin lebih ke kayak bagaimana sebuah apresiasi film itu terjadi, gimana merealisasikan oh ternyata emang film itu tidak hanya sekedar sebuah bentuk hiburan tapi ternyata banyak banget proses di dalamnya dan juga aku melihat sebuah event ini diadakan sebagai ajang untuk mengapresiasi para ph film dan yang menjadi produksi dalam film itu. Emang pengen tau aja dibalik itu seperti apa,” ucapnya.
SEENEMA menjadi perayaan apik bagi dunia perfilman di Indonesia, pasalnya event ini tak hanya menampilkan keindahan seni visual dan bermain peran saja namun juga menunjukkan keindahan dari proses kreatif yang ada. Antusiasme dari pengunjung turut memberi harapan kedepannya untuk terus mengadakan perayaan seperti ini serta melestarikan film-film Indonesia.
Penulis: Adelia Warastri Dewani
Editor: Efraim Ryan Revangga
