Pada 29 Oktober 2026 lalu, sebuah penelitian besar jurnal science yang didanai oleh National Aeronautics and Space Administration (NASA) berhasil mengungkap sebuah temuan baru batuan NASA. Temuan tersebut berupa Batuan merah muda yang ditemukan empat tahun lalu di Gurun Sahara, Mali yang kemudian teridentifikasi sebagai meteorit dari Mars melalui proses penanggalan mineral. Teghaza 001, nama meteorit tersebut, diambil dari nama permukiman bekas tambang garam Teghaza yang tidak jauh dari tempatnya ditemukan, Mali. 

Hasil penelitian Teghaza 001 menggambarkan kondisi kerak pembentukan awal planet Mars, diantaranya adalah interaksi antara batuan dan air. Para ilmuwan menyebut Teghaza 001 sebagai mesin waktu, yakni sebuah benda yang mencatat rupa Mars setelah beberapa ratus juta tahun pembentukannya. Meskipun begitu, lokasi pasti meteorit tersebut belum dapat ditentukan karena peneliti mengidentifikasi 13 lokasi dengan karakteristik batuan.

Sejauh ini, telah ditemukan lebih dari 400 meteorit Mars, dan dua diantaranya berusia hampir sama dengan Teghaza 001, yaitu  Allan Hills 84001 dan Northwest Africa 7034. Dikutip dari vietnam.vn, penulis laporan penelitian tersebut mengungkap kelangkaan batuan ini. “Sangat jarang menemukan sesuatu yang setua ini,” ungkap Yang Liu,  ilmuwan planet di Laboratorium Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA di California.

Yang Liu bersama timnya menggunakan metode penanggalan rubidium-stronsium untuk menganalisis mineral dalam meteorit. Melalui metode ini, ilmuwan memeriksa butiran mineral secara langsung tanpa melarutkan seluruh batuan yang menjadi sampel. Kemudian hasilnya dibandingkan dengan data milik NASA hasil misi di Mars, termasuk wahana Viking serta rover Curiosity dan Perseverance. Meteorit dengan berat 800 gram itu kemudian disimpulkan pernah berubah sekitar 4,1 miliar tahun lalu karena interaksi dengan air di planet Mars. 

Potongan Teghaza 001 yang digunakan untuk penelitian (Sumber: nasa.gov)

“Baru setelah kami mulai mengamatinya dengan saksama, kami menyadari bahwa meteorit ini benar-benar unik,” tulis Yang Liu. 

Selain usianya yang diketahui termasuk meteorit paling tua, komposisi mineral dan tekstur Teghaza juga unik karena berbeda dari meteorit-meteorit NASA yang berasal dari planet Mars. Lee Saper, peneliti pascadoktoral di JPL dan tim NASA Ames Research Center, mendukung dengan pernyataan bahwa sampel kerak planet Mars dari wilayah Teghaza 001 berasal belum pernah diwakili oleh meteorit tersebut. 

Namun, penemuan Teghaza 001 belum bisa menjadi bukti adanya kehidupan di planet Mars. Penelitian lebih lanjut diharapkan dapat mengungkap lebih banyak informasi mengenai meteorit Teghaza 001, termasuk bagaimana air berinteraksi dengan batuan pada masa awal Mars, ketika air masih mengalir di permukaannya. 

Meski temuan mineral dalam meteorit tersebut telah memberikan petunjuk penting tentang sejarah awal Planet Merah, sehingga para ilmuwan masih belum dapat memastikan kapan batuan itu terlempar dari Mars maupun kapan tepatnya jatuh di Gurun Sahara.

Batuan meteorit Teghaza 001 yang berwarna merah muda (Sumber: nasa.gov)

Yang Liu menyampaikan bahwa penelitian terhadap meteorit tersebut masih berada pada tahap awal. Senada dengan itu, Saper menilai masih banyak bagian yang perlu dikaji untuk memahami keseluruhan kisah di balik batuan tersebut. Analisis lanjutan pun diharapkan dapat mengungkap berbagai petunjuk yang belum teridentifikasi dan memperluas pemahaman ilmuwan mengenai masa lalu Mars.

Penulis: Najwa Asyilah Aliaputri 

Editor: Hilyah Mezka Paradiba 

3 November 2026

Written by:

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *