Smart Listeners pernah merasa tidak dengan semakin bertambahnya umur, semakin jarang pula chatting-an dengan teman-teman? Entah karena nggak punya waktu ataupun merasa sedang tidak ada hal penting yang perlu diobrolkan. Nah, fenomena tersebut dinamakan low maintenance friendship. 

Low maintenance friendship merupakan sebuah jenis pertemanan yang tidak memerlukan interaksi secara terus-menerus, biasanya dilakukan dengan teman lama. Hal ini sedang menjadi tren di kalangan orang dewasa.

Hubungan ini dapat terjadi karena kehidupan dewasa yang semakin sibuk sehingga menyita atensi seseorang dari pertemanannya. Prioritas hidup yang telah bergeser juga ikut serta menjadi faktor. 

Dulu, prioritas akademik seperti sekolah cenderung dekat dengan hubungan pertemanan, tetapi ketika beranjak dewasa fokus telah berpindah ke karier, keluarga, dan relasi romantis. Selain itu, adanya perbedaan kota dan zona waktu juga menjadi alasan yang kuat akan terjadinya tipe pertemanan ini. 

Apabila mengaitkan sudut pandang psikologi dan pendewasaan, low maintenance friendship menjadi relatable karena pertemanan di usia dewasa cenderung selektif. 

Mereka menerapkan konsep quality over quantity, yaitu ketika kualitas pertemanan mengalahkan jumlah teman yang dimiliki. Pendewasaan turut membuat seseorang lebih memahami bahwa jarak dan jeda bukan berarti penolakan.

Memberi komentar di postingan sebagai bentuk interaksi (sumber: unsplash.com)

Terdapat beberapa hal yang dapat dikenali dalam pertemanan ini. Contohnya, dalam suatu pertemanan mereka tidak merasa wajib untuk membalas chat dengan cepat. Interaksi yang dilakukan dikategorikan minim, mereka bisa tidak melakukan interaksi langsung dalam hitungan hari hingga minggu, bisa pula hingga berbulan-bulan. Biasanya, update sosial media dirasa cukup untuk mengetahui kabar satu sama lain. Walaupun  tidak berinteraksi dalam jangka waktu yang lama, low maintenance friendship tidak membuat suatu hubungan pertemanan menjadi renggang. 

Meski begitu, jenis pertemanan ini memang tidak dapat diterapkan ke seluruh lingkup pertemanan. Hubungan ini membutuhkan rasa saling percaya dan kemampuan beradaptasi agar koneksi yang terjalin tetap baik. 

Dengan diterapkannya rasa tersebut, suatu pertemanan akan tetap terjaga sehingga ketika bertemu kembali, obrolan tetap mengalir tanpa rasa canggung. Seolah-olah mereka melakukan interaksi setiap harinya.

Reuni bersama teman-teman sebagai bentuk menjaga hubungan (sumber: unsplash.com)

Di balik jadwal yang padat dan prioritas yang telah bergeser, ternyata low maintenance friendship memiliki manfaat tersendiri yang mungkin tidak disadari. Jenis pertemanan ini memberikan ruang agar seseorang dapat lebih fokus pada diri sendiri dan tujuan hidupnya. 

Manfaat lainnya adalah dapat membantu kesehatan mental. Hal ini karena setelah jadwal yang padat seseorang tidak perlu terbebani oleh tuntutan sosial dalam pertemanan. Selain itu, pertemanan akan terasa lebih tulus karena tidak dibangun atas kewajiban-kewajiban tertentu. Low maintenance friendship juga berpotensi membuat hubungan yang terjalin bisa bertahan lebih lama karena sifatnya yang fleksibel.

Untuk Smart Listeners yang ingin menerapkan jenis pertemanan ini, pastikan bahwa adanya komunikasi di awal. Jadi, perlu adanya keterbukaan atas gaya komunikasi masing-masing. Perlu diingat pula bahwa setiap beberapa waktu sekali penting untuk melakukan gestur-gestur seperti menanyakan kabar dan mengucapkan selamat ulang tahun. Jangan lupakan untuk tetap membuat rencana temu secara berkala. Misal setiap sebulan sekali maupun beberapa bulan sekali. 

Nah, teman mana nih yang selalu terasa dekat meski lama nggak berkabar? Yuk bagikan cerita Smart Listeners di kolom komentar!

Penulis : Erfita Adelia 

Editor: Mutia Ardhanareswari

23 Oktober 2026

Written by:

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *