Smart Listeners, pernah nggak sih membayangkan bagaimana rasanya kembali ke rumah setelah bertahun-tahun pergi, tetapi justru disambut oleh penolakan? Bukannya mendapatkan sambutan hangat dan tempat yang seharusnya terasa akrab, tetapi justru menjadi asing begitu saja. Situasi ini lah yang dihadapi oleh Pertiwi dalam film Empat Musim Pertiwi, karya terbaru yang disutradarai oleh Kamila Andini yang terpilih mewakili Indonesia menuju Piala Oscar 2027.

Poster utama Empat Musim Pertiwi (sumber: Instagram @kamilandini)

Diperankan oleh Putri Marino, Pertiwi merupakan seorang perempuan yang kembali ke kampung halamannya setelah menjalani hukuman penjara selama 20 tahun. Namun, kepulangannya tidak disambut dengan tangan terbuka. Keluarga dan masyarakat sekitar masih menyimpan prasangka terhadap masa lalu Pertiwi, membuat dirinya kesulitan menemukan tempat untuk memulai hidup kembali. 

Sepanjang perjalanannya, Pertiwi bertemu dengan orang-orang yang memiliki kisah serupa. Ada Christine Hakim yang berperan sebagai Mak Ira, mengalami pengucilan karena latar belakangnya sebagai mantan pekerja seks. Selain itu, Dwika Pradnyana yang berperan sebagai Kuntet, seorang penyandang disabilitas yang dipasung karena dianggap mengalami gangguan kejiwaan. Pengalaman mereka memperlihatkan bagaimana orang-orang yang dianggap “berbeda” kerap disingkirkan oleh lingkungan di sekitarnya. 

Melihat kenyataan tersebut, Pertiwi kemudian berinisiatif untuk membangun rumah aman bagi dirinya dan orang-orang yang mengalami penolakan serupa. Akan tetapi, upayanya tidak berjalan dengan mudah karena harus berhadapan dengan stigma sosial yang telah lama mengakar dalam lingkungannya.

Sosok Pertiwi yang diperankan oleh Putri Marino (sumber: dewimagazine.com)

Di balik cerita perjalanan Pertiwi, Empat Musim Pertiwi mengangkat persoalan tentang stigma, trauma, dan penerimaan sosial. Film ini memberikan pengalaman kepada Smart Listeners yang menonton untuk bersama-sama melihat bahwa masa lalu seseorang tidak seharusnya menjadi satu-satunya dasar untuk menentukan bagaimana ia diperlakukan. 

Pendekatan visual Kamila Andini membuat film ini terasa spesial dan dramatis. Latar pegunungan Tengger, Bromo, dengan bentang alam yang luas dan suasana yang cenderung sunyi turut membangun perasaan yang dialami para tokohnya. Film ini juga memadukan drama psikologis dan magis, sehingga pengalaman batin tidak hanya disampaikan melalui dialog, tetapi juga suasana dan simbol visual.

Pemeran dan kru film Empat Musim Pertiwi (sumber: indonesiasenang.com)

Tak hanya mengangkat persoalan sosial, film ini juga memperoleh perhatian di tingkat Internasional lho, Smart Listeners! Film Empat Musim Pertiwi terpilih sebagai perwakilan Indonesia dalam kategori Best Internasional Feature Film di Academy Awards ke-99 atau Piala Oscar 2027. Pencapaian ini membuka kesempatan bagi cerita yang berakar pada pengalaman masyarakat Indonesia untuk menjangkau penonton dunia. Bagi Smart Listeners yang belum menonton, film ini telah tayang di bioskop sejak 8 Oktober 2026 yaa!

Pada akhirnya, Empat Musim Pertiwi mengingatkan bahwa “pulang tidak selalu berarti diterima” dan “kesempatan kedua tidak selalu datang dengan mudah”. Terkadang, yang dibutuhkan seseorang bukanlah penghakiman atas masa lalu nya, melainkan ruang dan waktu untuk memperbaiki hidup dan kembali menemukan tempat di lingkungan yang terus berjalan.

So, menurut Smart Listeners, apakah seseorang benar-benar bisa memulai hidup yang baru jika lingkungan sekitarnya terus mengingat kesalahan masa lalu? Tulis pendapat Smart Listeners di kolom komentar ya!

Penulis : Hanunatuzulfa Fairuz Ariyanto

Editor : Nazmah Aliya Rahmah

22 Oktober 2026

Written by:

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *