Bayangkan sebuah bentang hutan hijau yang luas, tempat di mana seekor orangutan besar dengan rambut kemerahan berayun bebas dari pohon ke pohon lainnya dengan begitu lincah. Mengayunkan ranting-ranting pohon hingga menciptakan suara merdu, terlihat sangat indah kan, Smart Listeners? Tapi sayangnya, bayangan indah itu perlahan mulai pudar dan digantikan oleh kenyataan yang pahit. Kesunyian hutan Sumatera kini seolah menjadi alarm bahaya setelah Kementerian Kehutanan merilis data pemantauan terbaru yang cukup mengejutkan. 

Wakil Menteri Kehutanan, Rohmat Marzuki, S.Hut., pada Seminar Nasional Refleksi Satu Dekade Konservasi Orangutan Sumatera dan Orangutan Tapanuli (Sumber: astakom.com)

Berdasarkan hasil survei populasi yang dirilis sepanjang periode 2021–2023, jumlah Orangutan Sumatera (Pongo Abelii) diperkirakan berada di angka 11.694 ekor di alam liar. Angka 11 ribuan mungkin terlihat ramai apabila itu merupakan jumlah kapasitas penonton di gedung konser. Sekarang, coba Smart Listeners bayangkan, angka itu tersebar di jutaan hektare hutan Sumatera yang luas. Menemukan mereka saat ini rasanya seperti mencari jarum di tumpukan jerami.

Kondisi yang jauh lebih memprihatinkan melanda kerabat dekat mereka, yaitu Orangutan Tapanuli (Pongo Tapanuliensis). Spesies kera besar ini dilaporkan berada dalam status sangat kritis dengan populasi tersisa hanya 716 ekor di alam liar. Jika sisa pertahanan yang sangat tipis ini gagal dijaga, keseimbangan ekosistem hutan akan terancam. 

Orangutan Tapanuli (Pongo Tapanuliensis)
(Sumber: a-z-animals.com)

Menanggapi situasi kritis tersebut, Wakil Menteri Kehutanan, Rohmat Marzuki, menegaskan bahwa angka-angka ini harus menjadi perhatian serius semua pihak. “Orangutan adalah indikator utama kesehatan hutan. Penurunan populasi ini melandasi pemerintah untuk segera memperketat pengawasan kawasan konservasi dan mengevaluasi izin lahan yang memotong habitat mereka,” jelas Rohmat dalam siaran pers di Medan, Senin (20/7/2026). 

Langkah memperketat pengawasan konservasi ini tentunya tidak bisa bertumpu pada pihak kementerian sendiri. Masyarakat luas, terutama yang tinggal di sekitar kawasan hutan, juga harus turut aktif berpartisipasi sebagai mata dan telinga di lapangan dengan cara melaporkan setiap aktivitas ilegal. 

Kesadaran dan partisipasi aktif ini sangat krusial, karena kehilangan orangutan bukan cuma masalah kehilangan satu spesies satwa saja lho, Smart Listeners. Sebagai pemakan buah, orangutan adalah “petani alami” yang bertugas menyebarkan biji-biji pohon ke berbagai penjuru hutan lewat kotorannya. Uniknya lagi, mereka sering memakan buah dari pohon-pohon besar berkayu keras yang bijinya tidak bisa ditelan atau disebarkan oleh satwa lain. Dapat dibayangkan, tanpa kehadiran mereka, regenerasi alami pohon-pohon raksasa penghasil oksigen di hutan tropis Sumatera bisa ikut terhenti.

Orangutan Sumatera di tengah habitat alaminya
(Sumber: ar.inspiredpencil.com)

Oleh karena itu, Smart Listeners, menjaga kelestarian orangutan dan habitatnya bukan lagi sekadar aksi penyelamatan satwa langka, melainkan investasi jangka panjang. Melindungi mereka berarti mengamankan pasokan air bersih, udara segar, dan keasrian hutan yang tidak tergantikan. Nah, setelah mendengar fakta-fakta tadi, kira-kira langkah kecil apa nih yang ingin Smart Listeners mulai lakukan dari sekarang untuk ikut menyuarakan perlindungan hutan dan segala habitat di dalamnya? Yuk, tulis pendapat dan ide Smart Listeners di kolom komentar yaa! 

Penulis : Enjang Wikantini
Editor : Najwa Asyilah Aliaputri

21 Juli 2026

Written by:

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *