Smart Listeners siapa yang di daerah rumahnya ternyata terdapat tanaman bambu yang belum terjamah oleh warga sekitar? Padahal bambu memiliki banyak manfaat yang seringkali tidak disadari. 

Pemanfaatan bambu sebagai alat edukasi media seni. (sumber: lindungihutan.com

Tim dosen dan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) mengusung cara yang segar dalam memaknai sebatang bambu. Bambu yang sering dianggap bahan bangunan biasa diubah menjadi media seni sekaligus alat edukasi pengetahuan sains. Program bertajuk Soundscape Edupark ini menjadi wadah untuk merancang instalasi bunyi bambu yang menarik dan ramah lingkungan.

Program ini digagas oleh Tim Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) UMSIDA dengan mengusung perancangan STEAM, yang merupakan akronim dari Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics. Program yang dipimpin oleh Evie Destiana ini memadukan pemanfaatan bambu sebagai bagian dari kearifan lokal dengan pendekatan seni etnomusikologi dan sains. Melalui perpaduan tersebut, bambu dikembangkan menjadi karya yang tidak hanya selaras dengan alam, tetapi juga dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat. 

Pada pelaksanaannya, program ini tidak berdiri sendiri. Program ini mendapatkan dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Hal ini menunjukkan bahwa riset kampus seperti ini mempunyai jalur pengakuan formal di tingkat nasional.

Esensi dari program ini adalah instalasi bernama Eco-Aesthetic Soundscape, yang mengolaborasikan tata suara lingkungan dengan material bambu alami menggunakan perhitungan nada yang berbasis musikologi digital. Produk yang dihasilkan adalah lanskap bunyi indah yang menyatu dengan suasana alam sekitar. Dengan demikian, karya yang dihasilkan tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga menghadirkan makna yang dapat dirasakan melalui suara.

Sistem berbasis digital juga dibangun untuk mengelola jadwal pementasan, layanan budaya, serta edukasi dari instalasi yang diberi nama “Bambu Berbicara”. Selain itu, program ini turut merangkul masyarakat melalui ruang belajar ramah anak bernama Binangun Edupark, yang mengenalkan sains lewat ekosistem bambu dan fenomena bunyi alami.

Perwakilan UMSIDA bersama warga Desa Plintahan dalam program pemberdayaan desa (Sumber: Umsida.ac.id)

Program ini tidak hanya berhenti di peluncurannya saja, dibentuk pula kelompok seni bernama Sekar Binangun yang melibatkan pemuda dan ibu-ibu setempat, mulai dari pementasan pertunjukan, perawatan instalasi, hingga pengelolaan wisata edukasi. Lebih dari sekadar riset, kegiatan ini dirancang agar hasilnya dapat terus berkembang dan memberikan manfaat jangka panjang dengan melibatkan masyarakat setempat sebagai pengelola. Perwakilan Dusun Binangun, M. Ichwan, juga menyebutkan bahwa kehadiran kelompok ini dijadikan sebagai wadah positif bagi generasi muda dan ibu-ibu setempat, sekaligus menggerakkan ekonomi warga desa.

Smart Listeners, ternyata riset kampus tidak selalu berakhir di laporan penelitian. Dari sebatang bambu yang ada di sekitar desa, lahir sebuah upaya yang menggabungkan sains, seni, dan pemberdayaan masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa ide yang berawal dari lingkungan akademik bisa dikembangkan menjadi sesuatu yang dekat dengan kehidupan warga dan memberikan manfaat secara langsung.

Penulis : Hilyah Mezka Paradiba 

Editor: Enjang Wikantini 

18 Agustus 2026

Written by:

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *