Pernahkah Smart Listeners merasa bahwa jadwal di dunia perkuliahan masih banyak yang kosong? Apakah hal tersebut sontak membuat Smart Listeners mengisinya dengan hal-hal random? Kedua pertanyaan sebelumnya merupakan hal yang seharusnya dijawab secara personal. Namun, apakah kedua hal-hal itu wajib dilakukan?
Terkadang, kita meletakkan standar kesibukan yang sama dengan orang lain, padahal itu merupakan hal yang tidak bisa disamaratakan. Kesibukan demi kesibukan seolah memberikan pesan kepada kita bahwa “Aku harus punya kegiatan hari ini”. Sedianya hal tersebut terlihat normal, tetapi menjadi tidak normal ketika kata “harus” tidak diimbangi dengan pertimbangan yang matang. Bahkan, kurang tidur akibat sibuk menjadi sebuah kebanggan. Melihat teman sekelas yang meng-update status saat berkegiatan di tengah malam men-trigger kita untuk melakukan hal yang sama. Padahal, pada dasarnya tidak ada alasan dan kegiatan pasti yang bisa dilakukan saat itu. Apalagi ketika setelah melakukan kegiatan berat seharian, otak tetap dipaksa bekerja ketika hendak tidur.

Inilah yang membuat kita dilema sehingga mengaburkan prioritas awal. Fenomena ini sering ditemui pada mahasiswa organisasi yang sering bertemu atau nongkrong dengan teman se-organisasi atau di luar organisasi. Terkadang ikatan emosional yang terbentuk membuat kita harus terus selalu nongkrong dengan orang lain. Alhasil kondisi akademik menjadi terganggu bahkan tertinggalkan.
Keseluruhan fenomena tersebut merupakan bentuk dari Toxic Productivity. Kondisi ini terjadi ketika kita merasa memiliki dorongan berlebih untuk terus bekerja atau produktif tanpa mengenal batas. Dorongan berlebih justru melanggar kondisi biologis tubuh yang sudah lelah dan membutuhkan istirahat. Karenanya, psikis mengalami kontradiksi, yakni perasaan bersalah ketika tidak melakukan hal yang dianggap produktif. Secara sederhana, produktif adalah kondisi ketika pekerjaan yang dilakukan memiliki hal yang jelas, tahu kapan harus berhenti, dan menilai bahwa istirahat merupakan bagian dari proses. Produktif baik juga harus memusatkan pada hasil, bukan seberapa banyak yang dilakukan.

Mahasiswa perlu keluar dari Toxic Productivity tersebut dengan berbagai cara. Salah satunya yaitu fokus kepada akademik tanpa mengenyampingkan hal non-akademik. Selain itu, perlu untuk membedakan kegiatan penting dan kegiatan yang hanya ingin dilakukan untuk mengisi waktu luang semata, tanpa mempertimbangkan feedback yang didapat. Dengan kesibukan berkuliah, kita juga harus membatasi aktivitas yang terjadwalkan. Lalu, kita juga harus terbiasa berkata “nggak” untuk menolak hal yang dianggap kurang penting. Terakhir, perlu melepaskan kesibukan dari bagian identitas mahasiswa agar mahasiswa tidak selalu terpaku untuk melakukan hal apapun agar mereka merasa menjadi terlalu sibuk itu lebih baik. Hal-hal tersebut membantu kita untuk memilah kegiatan produktif yang sebenarnya kita butuhkan.
Kalau pengalaman Smart Listeners gimana? Bijaklah dalam memilih kesibukan, gunakan waktu Smart Listeners sebaik mungkin dengan tanpa mengenyampingkan prioritasnya dalam berkuliah yaa!
Penulis : Efraim Ryan Revangga Pakpahan
Editor : Najwa Asyilah Aliaputri
