Pada bulan kemerdekaan yang seharusnya dipenuhi oleh rasa kemenangan, rakyat Indonesia justru merasakan duka akibat kebakaran hutan dan lahan. Pasalnya, kebakaran tidak terjadi di satu wilayah saja. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Papua Selatan, dan beberapa wilayah di Sumatra merupakkan wilayah dengan jumlah titik panas yang signifikan. Di Kalimantan sendiri, ditemukan sebanyak 123 titik panas pada 17 Agustus dan terus bertambah sejak saat itu.
Kebakaran hutan dan lahan sebenarnya merupakan peristiwa tahunan di Indonesia setiap musim kemarau. Menurunnya kualitas udara, asap yang menutupi berbagai wilayah, hingga tenaga yang dikerahkan untuk memadamkan api adalah hal-hal yang telah dihadapi Indonesia di tahun-tahun sebelumnya. Apakah Smart Listeners pernah bertanya-tanya, mengapa Indonesia terus menghadapi fenomena ini?
Dalam beberapa pemberitaan atau penelitian, diketahui bahwa kebakaran hutan dan lahan disebabkan oleh aktivitas manusia, baik secara sengaja maupun tidak. Namun nyatanya, terdapat faktor lain yang menjadi penyebab bencana alam ini terus terjadi, khususnya pada bulan Agustus 2026.

Data perubahan suhu laut di Samudra Pasifik (Sumber: X/@infoBMKG)
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyebut kebakaran hutan dan lahan terkhusus di Kalimantan disebabkan oleh El Niño. El Niño terjadi ketika suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur mengalami pemanasan. Akibatnya, Indonesia mengalami pengurangan pembentukan dan masuknya awan hujan sehingga curah hujan cenderung lebih rendah. Indeks El Niño diketahui berintensitas kuat, tercatat mencapai +2,77 pada Agustus 2026.
Ardhasena Sopaheluwakan juga menjelaskan bahwa sebanyak 76,5% wilayah Indonesia mengalami musim kemarau dengan tingkatan yang berbeda-beda. Kalimantan berada di status waspada dan siaga. Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur tergolong pada status waspada. Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan termasuk ke dalam status siaga.
Indonesia memang memiliki musim kemarau secara alami, tetapi El Niño berperan besar dalam memperkuat musim kemarau tersebut. Ketika musim kemarau dan El Niño terjadi bersamaan, akibatnya kemarau menjadi lebih kering dan dapat berlangsung lebih lama. BMKG juga memprediksi puncak musim kemarau di Indonesia terjadi pada Juli-September 2026.

Tanah kering (Sumber: pexels.com)
Kedua fenomena tersebut memicu lahan menjadi semakin kering. Saat intensitas hujan berkurang dalam waktu yang lama, kadar air tanah, tumbuhan, dan elemen organik di permukaan tanah pun menurun. Kondisi tersebut membuat vegetasi lebih mudah terbakar. Begitu muncul sumber api, api akan lebih mudah menyebar karena lingkungan sekitar hutan dan lahan memiliki kadar air yang rendah. Hal ini juga memicu mengapa titik panas kian meningkat setiap harinya.
Musim kemarau bukan fenomena yang bisa dikendalikan, tetapi kita bisa menghadapinya dengan langkah-langkah bijak. Jadi, Smart Listeners dapat lebih waspada dan bijak terhadap aktivitas selama musim kemarau serta membantu saudara kita yang terdampak oleh bencana alam ini.
Penulis: Erfita Adelia
Editor: Enjang Wikantini
