Smart Listeners tahu nggak, sih? Literasi ternyata bukan hanya tentang seberapa banyak buku yang tersedia atau seberapa sering kita membaca buku lho. Tapi ada hal lain yang sering luput untuk diperhatikan oleh kebanyakan orang, apakah setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati bahan bacaan?
Nah, dari situ Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa atau Badan Bahasa melakukan upaya untuk memperluas akses terhadap bahan bacaan tersebut. Sebelumnya, Badan Bahasa sudah mendistribusikan sekitar 5,5 juta buku bacaan untuk anak sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) di 510 kabupaten/kota yang tersebar di 38 provinsi. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperluas ketersediaan bahan bacaan bagi anak di berbagai daerah.

Namun, penyediaan buku dalam jumlah besar saja belum tentu cukup untuk membuat semua anak dapat mengaksesnya dengan cara yang sama. Tidak semua anak memiliki kondisi dan kebutuhan yang sama dalam menikmati buku bacaan. Karena itu, Badan Bahasa menghadirkan buku audio bagi anak-anak yang memiliki keterbatasan.
Lalu, seperti apa sih buku audio itu? Berbeda dengan buku cetak yang biasanya hanya mengandalkan tulisan dan gambar pada halaman, buku audio ini menyampaikan isi bacaan melalui rekaman suara. Cerita atau informasi yang ada di dalam buku dibacakan lalu direkam dalam bentuk audio sehingga anak dapat mengikuti isinya dengan cara mendengarkan.

Kehadiran buku audio menjadi salah satu usaha yang dilakukan Badan Bahasa untuk menyamaratakan kesempatan membaca bagi semua anak. Buku bacaan yang sebelumnya lebih banyak hadir melalui tulisan dan visual, kini dapat dinikmati melalui suara.
Melalui format tersebut, anak-anak yang memiliki keterbatasan tetap dapat mengakses buku bacaan, mengenal cerita, memperoleh informasi, dan mengikuti kegiatan literasi yang sama dengan teman-temannya tanpa bergantung pada teks visual. Isi bacaan tetap sama, tetapi bentuk penyampaiannya saja yang dibuat berbeda agar dapat digunakan oleh anak dengan kebutuhan yang beragam.

Hal ini berkaitan dengan literasi yang terbuka bagi semua anak. Pemerataan tidak hanya dilakukan dengan memperluas jumlah dan wilayah penerima buku bacaan saja, tetapi juga dengan mempertimbangkan keberagaman kondisi anak. Dengan begitu, kegiatan literasi dapat memberikan kesempatan yang lebih luas bagi anak untuk memperoleh pengetahuan melalui sumber belajar dan format belajar yang sesuai.
Menarik banget kan, Smart Listeners? Sekarang, kita bisa menjelajahi dunia lewat buku, nggak melulu harus menatap halaman kertas. Keterbatasan itu bukan lagi batas, karena kini semua anak bisa merasakan serunya literasi melalui format yang beragam sesuai dengan kebutuhan mereka.
Penulis : Mutia Ardhanareswari
Editor : Hilyah Mezka Paradiba
