Smart Listeners pernah nggak, tugas belum selesai, deadline tinggal besok, tapi tiba-tiba tangan langsung ambil sapu dan langsung beres-beres kamar?
Situasi ini tentu tidak asing bagi pelajar maupun mahasiswa karena ketika tugas terasa berat dan deadline yang kian mendekat, ada saja aktivitas lain yang terasa lebih menarik untuk dilakukan. Aktivitas yang dilakukan bukan hanya sekadar rebahan atau bermain hp, justru aktivitas yang tetap produktif seperti membersihkan kamar, mencuci pakaian, hingga tiba-tiba rajin bersosialisasi dengan warga sekitar.
Fenomena tersebut ternyata memiliki nama, lho, Smart Listeners, yaitu productive procrastination. Kondisi ini terjadi ketika seseorang lebih memilih untuk mengerjakan pekerjaan kecil daripada menyelesaikan pekerjaan utama yang menjadi prioritas. Salah satu alasan productive procrastination terasa nyaman yaitu karena menghasilkan rasa berhasil yang lebih cepat.
Misalnya, menyelesaikan satu sampai dua halaman tugas membutuhkan konsentrasi dan pemahaman yang cukup besar. Sementara itu, mencuci pakaian atau menyapu lantai dapat langsung terlihat hasilnya. Selain itu, melakukan aktivitas lain dapat memberikan kesan bahwa kita masih produktif. Sayangnya, meski memberi kesan sibuk dan produktif, pekerjaan yang dilakukan tidaklah berada di urutan prioritas tertinggi.

Rasa cemas yang menyelimuti diri (Sumber: unsplash.com)
Inilah yang membuat productive procrastination terlihat berbahaya daripada sekadar rebahan. Saat mendekati deadline tetapi yang dilakukan hanya rebahan, maka perasaan yang dirasa pasti cemas dan bersalah. Namun, disaat melakukan hal-hal produktif seperti membersihkan kamar, otak merasa aman karena menganggap melakukan kegiatan produktif. Ilusi tidak bersalah ini yang membuat semakin nyaman menunda pekerjaan utama tanpa sadar.
Productive Procrastination sebenarnya tidak selalu berdampak buruk, lho, Smart Listeners. Beristirahat, membersihkan kamar, mencuci, hingga bersosialisasi dapat membantu mengembalikan energi untuk mengerjakan tugas. Selama dilakukan untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif, jeda tersebut justru bermanfaat. Namun, hal yang perlu diperhatikan ialah alasan dibalik aktivitas-aktivitas tersebut. Apabila mengerjakan aktivitas tersebut dengan maksud untuk tidak menyentuh tugas selama beberapa waktu, itulah yang perlu diperhatikan karena berarti sedang menghindari tugas.

Membuat To Do List tugas dan aktivitas sehari-hari (Sumber: unsplash.com)
Tapi kan, tugas nggak harus nunggu mepet deadline ya, Smart Listeners?
Daripada menunggu sampai mood datang, Smart Listeners bisa memecah menjadi beberapa bagian kecil. Setelah berjalan, beban mental pasti akan terasa lebih ringan. Jika masih saja terasa berat, coba Smart Listeners tanyakan pada diri sendiri “kalau meja nya nggak dirapihin sekarang apakah aku beneran nggak bisa mengerjakan sedikit pun?” Kalau jawabannya masih dikatakan bisa-bisa saja, maka itu murni alibi untuk menunda.
Terakhir, untuk jangka panjang, tetapkan waktu khusus untuk setiap aktivitas misalnya mencuci baju, lalu selesaikan satu sesi khusus fokus belajar dengan teknik pomodoro. Bersiap-siap itu merupakan hal yang penting, tapi jangan sampai persiapan tersebut yang menghalangi langkah. Produktif sesungguhnya berarti ketika bisa berani membuka dan menyelesaikan apa yang paling menjadi prioritas.
Jadi, buat Smart Listeners yang sejak tadi masih sibuk bersih-bersih, yuk ditaruh dulu sapu dan langsung buka tugasnya!
Penulis : Nazmah Aliya Rahmah
Editor : Mutia Ardhanareswari
