Sebagai makhluk sosial, manusia tentu membutuhkan kehadiran orang lain dalam kehidupannya. Pertemanan pun dapat terjalin dengan siapa saja, tanpa memandang gender. Namun, kenapa ya, kedekatan seorang laki-laki dan perempuan yang cukup intens kerap memunculkan pertanyaan dari orang-orang di sekitarnya?
Bagi Smart Listeners yang memiliki sahabat lawan jenis, mungkin sudah tidak asing dengan pertanyaan, “Kalian pacaran, ya?” Terlebih jika Smart Listeners dan dia sering menghabiskan waktu bersama, mulai dari makan bersama, berangkat dan pulang kuliah, hingga menjadi one call away ketika salah satunya membutuhkan bantuan.
Seiring berjalannya waktu, tidak jarang orang-orang berspekulasi bahwa salah satu atau bahkan keduanya menyimpan perasaan lebih. Ada pula anggapan bahwa persahabatan antara laki-laki dan perempuan hanyalah tahap awal sebelum memasuki hubungan romantis.
Lantas, benarkah kedekatan antara laki-laki dan perempuan tidak bisa berhenti sebagai persahabatan?
Persahabatan yang terjalin erat tanpa melibatkan ketertarikan romantis maupun seksual dikenal dengan istilah hubungan platonik (platonic relationship). Dalam studi berjudul “Just a Friend or Something More: Understanding the Complexity of Opposite-Sex Friendships” (2025), hubungan platonik dijelaskan sebagai bentuk pertemanan antara laki-laki dan perempuan yang tidak didasari ketertarikan romantis ataupun seksual.
Artinya, kedekatan emosional tidak selalu harus diartikan sebagai rasa cinta. Dua orang dapat saling memahami, memberikan dukungan, dan berbagi cerita tanpa harus memiliki status sebagai pasangan. Karena ketertarikan emosional yang berfokus pada kenyamanan dan kepercayaan berbeda dengan ketertarikan romantis maupun seksual.

Lingkungan pertemanan menjadi salah satu faktor dalam mempertahankan pertemanan lawan jenis yang sehat (Sumber: Unsplash)
Meskipun hubungan platonik memungkinkan untuk dijalani, persahabatan lawan jenis tidak selalu bebas dari dinamika yang rumit. Salah satu tantangannya adalah stigma sosial yang masih menganggap bahwa laki-laki dan perempuan tidak mungkin berteman tanpa melibatkan perasaan.
Candaan teman-teman yang terus menjodohkan dua orang, misalnya, dapat membentuk persepsi bahwa kedekatan mereka seharusnya berkembang menjadi hubungan romantis.
Anggapan tersebut dapat memengaruhi cara seseorang memandang persahabatan, bahkan mendorong munculnya ekspektasi romantis dari salah satu pihak. Tidak menutup kemungkinan bahwa seiring bertambahnya kedekatan, salah satu pihak mulai mengembangkan perasaan yang sebelumnya tidak ada.
Terlihat cukup rumit, ya, Smart Listeners?
Namun, berbagai dinamika tersebut bukan berarti persahabatan lawan jenis mustahil untuk dijalani. Di sinilah boundaries atau batasan berperan penting.
Dalam hubungan antarmanusia, boundaries merupakan batasan personal yang ditetapkan seseorang untuk menjaga kenyamanan, kebutuhan, serta ruang pribadinya. Batasan ini membantu setiap individu memahami hal-hal yang dapat diterima maupun yang membuat dirinya merasa tidak nyaman.
Penting untuk dipahami bahwa boundaries berbeda dengan sikap posesif atau keinginan untuk mengontrol orang lain. Sebaliknya, boundaries merupakan bentuk komunikasi mengenai kebutuhan dan kenyamanan diri sendiri tanpa mengabaikan hak orang lain.

Batasan fisik dan emosional perlu ditetapkan dalam pertemanan lawan jenis (Sumber: Unsplash)
Dalam persahabatan lawan jenis, ada beberapa hal yang dapat diperhatikan untuk menjaga hubungan tetap berada dalam koridor pertemanan. Dalam artikel “Strategi Mempertahankan Hubungan Pertemanan Lawan Jenis pada Dewasa Muda” yang diterbitkan UGM pada 2016 lalu, ada beberapa cara untuk menjaga pertemanan lawan jenis.
Pertama, saling menghargai privasi dan ruang personal. Kedekatan bukan berarti seseorang harus selalu mengetahui segala hal tentang kehidupan sahabatnya karena setiap individu tetap memiliki kehidupan dan urusan pribadi yang perlu dihormati.
Kedua, memahami kenyamanan dalam interaksi fisik maupun emosional. Setiap orang memiliki batas kenyamanan yang berbeda, termasuk dalam hal kontak fisik. Gestur sederhana seperti menyandarkan kepala ke bahu, merangkul, atau mengusap kepala mungkin dianggap sebagai bentuk perhatian biasa oleh satu pihak.
Namun, bagi pihak lainnya, interaksi tersebut bisa memiliki makna lebih personal dan berpotensi menumbuhkan perasaan. Karena itu, penting untuk memahami bagaimana sebuah tindakan diterima dan dimaknai oleh masing-masing pihak.
Ketiga, hindari membangun ekspektasi romantis secara sepihak. Ketika seseorang mulai mengharapkan hubungan lebih dari sekadar pertemanan, sementara pihak lainnya tidak memiliki perasaan yang sama, penting untuk bersikap jujur terhadap diri sendiri. Jangan sampai perhatian atau kebaikan seorang sahabat selalu dianggap sebagai tanda ketertarikan romantis.
Selain menetapkan batasan, komunikasi terbuka pun sangat dibutuhkan untuk mempertahankan hubungan platonik. Kedua pihak perlu memiliki keberanian untuk menyampaikan perasaan, kebutuhan, maupun hal-hal yang membuat mereka tidak nyaman. Dengan begitu, keduanya dapat membangun pemahaman bersama dan menyesuaikan diri ketika situasi atau perasaan berubah.
Nah, Smart Listeners, persahabatan antara laki-laki dan perempuan tetap memungkinkan selama keduanya memiliki pemahaman yang jelas mengenai hubungan yang dijalani. Tidak semua kedekatan harus berujung pada hubungan romantis, dan tidak semua perhatian harus dimaknai sebagai tanda cinta.
Sebab, kualitas sebuah hubungan ditentukan oleh bagaimana setiap individu membangun kepercayaan, menghargai satu sama lain, dan menjaga komunikasi. Terkadang, memiliki seorang sahabat yang selalu ada tanpa harus menjadi pasangan juga merupakan bentuk hubungan yang tidak kalah berharga.
Penulis: As Syifa Dzihni Nafisa
Editor: Mutia Ardhanareswari
