COLORCODE terbangun dari tidurnya selama hampir satu tahun. Unit emo-hardcore asal Yogyakarta ini secara mengejutkan merilis video teaser comeback-nya pada tanggal 24 Juli lalu. Teaser tersebut sontak menjadi sinyal ke penggemarnya bahwa Ican cs akan segera kembali ke formasi utuh.
Mungkin Smart Listeners juga bertanya-tanya mengapa COLORCODE vakum setelah ditinggal sang vokalis di saat mereka sedang hype-hypenya. Jika dilihat dari rumor yang beredar, alasannya beragam. Mulai dari kondisi mental hingga pemulihan diri yang membuat sang vokalis hengkang dari bandnya.

Kalau melihat kembali perjalanan COLORCODE, “Shiver” menjadi lagu yang paling menggambarkan karakter musik band ini. Nah, kalau Smart Listeners ingat band Knuckle Puck, kurang lebih vibes-nya sebelas dua belas, alias kedua band tersebut memiliki kemiripan dalam warna musiknya.
Lalu, karier mereka melejit setelah merilis EP Pain that I Buried Inside yang dirilis pada 2023 lalu. Rilisan tersebut melahirkan lagu “Merra” yang dikenal sebagai anthem “wong kalahan”, sebutan bagi orang-orang yang sering tersakiti atau kalah dalam urusan cinta maupun hidup. Saat ini, “Merra” juga telah diputar sebanyak 13 juta kali di Spotify.
Sebelum Ican memutuskan untuk hengkang, COLORCODE merilis dua single di bawah naungan label Greedy Dust dengan tajuk “Where The Sea Sleeps // All Is Gone“. Rilisan ini cukup berat bagi Ican karena menceritakan perasaannya setelah kehilangan sang ayah. Beberapa waktu setelah merilis single tersebut, tepatnya pada Juli, Ican secara mengejutkan hengkang dari COLORCODE.
Band ini akhirnya memutuskan untuk mengakhiri masa vakumnya pada 4 Agustus 2026. Tanggal tersebut menjadi hari yang paling ditunggu-tunggu penggemar COLORCODE dengan dirilisnya dua single terbaru bertajuk “Submerge / Trauma Responses”. Dengan ini, COLORCODE membuka lembaran baru bagi perjalanan mereka.

“Submerge” menghadirkan atmosfer yang melankolis dan reflektif tentang sebuah pendewasaan dan penerimaan. Dibuka dengan skeptis manusia kepada Tuhannya, lalu mulai mempertanyakan “kenapa hidupku akan berjalan seperti ini?” dan sebagainya. Bisa jadi “Submerge” merupakan kelanjutan dari cerita yang sebelumnya diangkat dalam “All is Gone”, tentang Ican yang ditinggal ayahnya. Hal itu dapat dilihat di bagian akhir lagu, ketika ia mulai memahami bagaimana cara melepaskan kepergian seseorang.
Di lain sisi, “Trauma Responses” hadir dengan letupan emosional dan dengan aransemen yang lebih meledak-ledak daripada track sebelumnya. Bagaimana tidak? Dalam track ini, COLORCODE menggambarkan bagaimana susahnya melepas kenangan yang telah diukir bersama. Namun, si dia sudah bahagia bersama yang lain. Smart Listeners ikut nyesek nggak, sih?
Kedua track ini menjadi gambaran perkembangan musikal COLORCODE yang semakin solid dan percaya diri. Mereka tetap mempertahankan identitas musik yang telah dikenal, tetapi menghadirkan warna baru yang terasa lebih emosional dan dekat dengan pengalaman banyak pendengar. Terutama tentang kehilangan, perubahan, serta upaya berdamai dengan keadaan.
Kehadiran “Submerge / Trauma Response” menjadi pembuka yang kuat menuju album Constant Change yang akan segera dirilis September mendatang. Melalui rilisan ini, COLORCODE memperlihatkan babak baru dalam perjalanan kreatif mereka, sekaligus menawarkan karya yang dapat dinikmati oleh penikmat melodic hardcore, emo, maupun pop punk modern.
Penulis: Rafly Wijanarko
Editor: Erfita Adelia
