Kapan terakhir kali rasa aman hadir di hari Smart Listeners? Apakah kemarin? Bulan lalu? Atau bahkan sudah lupa? Pertanyaan itu memang terdengar singkat, tapi sering sekali hal tersebut sulit kita jawab. Sebenarnya, kita bisa saja sejenak membohongi siapapun yang bertanya demikian, toh kitalah yang paling tahu keadaan sebenarnya. Namun, pada dasarnya bukan orang lain yang terbohongi, tapi diri kita sendiri.

Suasana tegang ketika seseorang tampak menyampaikan teguran dengan penuh emosi. (Sumber: magnific.com)
Pertanyaan singkat tersebut pada akhirnya tidak untuk dijawab, tapi secepat apa kita menjawabnya. Tujuan utamanya adalah bagaimana tempat nyaman tersebut segera ditemukan. Beberapa cara mungkin bisa dicoba, salah satunya pergi ke suatu tempat dimana tidak ada satupun orang yang kita kenali.
Tempat baru yang berisi orang tak dikenal tersebut bernama the fourth place atau ruang keempat. Ruang pertama biasa kita kenal sebagai kamar pribadi, selanjutnya ruang kedua yakni rumah, dan ruang ketiga merupakan sekolah atau kampus. Ruang-ruang tersebut sebenarnya digunakan sebagai panggung aktualisasi diri. Di kamar kita sering melakukan aktivitas pribadi dan bersifat privasi. Dari rumah, kita merasakan bagaimana anggota keluarga mengapresiasi dan beberapa kali mendikti perilaku kita. Ketiga tempat tersebut hadir untuk kita dapat dengan leluasa menjadi diri sendiri, diberkati berbagai pengakuan dan pujian.
Nahasnya, ketiga tempat tersebut malah sering kali menjadi tempat penghakiman itu terjadi. Bukan pertanyaan-pertanyaan baik yang terlontar, tapi beberapa pertanyaan seperti “Kapan lulus?”, “Juara berapa?”, “Kapan nikah?”, atau “Berapa nilaimu?”. Pertanyaan ringan yang terdengar sarkas dan menusuk hati.
Tampaknya, dengan ketiga ruang tersebut. Perlulah kita untuk menemukan ruangan dimana tidak ada satupun mengerti apa yang sudah kita lakukan. Ruangan tersebut tidak selalu hadir dalam bentuk bangunan, tapi kehadiran orang-orang yang menerima setiap kata dari cerita.

Sekelompok orang yang sedang memberikan nasihat kepada rekannya yang sedang pusing. (Sumber: magnific.com)
Akhir-akhir ini, muncul sebuah komunitas yang berisi orang-orang tak dikenali untuk saling berbagi cerita. Mereka melingkar pada sebuah tempat, dimulai oleh seseorang dan disambung orang lainnya. Setiap cerita tidak ditujukan untuk divalidasi, tapi untuk didengarkan. Tak sedikit dari mereka yang menangis, tertawa, bahkan terdiam. Diamnya mereka tampaknya bukan karena tak mau menggubris, tapi karena salut dan bangga akan cerita orang-orang kuat itu. Namun, jika ada yang enggan bercerita, hal tersebut pun diperbolehkan. Selayaknya orang-orang tak mengenali dan menghakimi.
Selain komunitas tersebut, Smart Listeners juga bisa menemukan the fourth place melalui sapaan singkat barista, teguran dari satpam, bahkan cerita panjang dengan pengendara ojek online. Orang-orang tersebut sama sekali tidak mengetahui cerita tentang latar belakang kita sebelumnya. Bahkan, jika kita menceritakan seribu duka yang tersimpan, mungkin satu dua hari mereka akan lupa. Karena, pada dasarnya aktualisasi diri yang ingin kita capai bukan untuk merasa terpuji, tapi sekedar mendapat rasa aman dan nyaman.

Seseorang yang tampak fokus membaca di depan rak buku. (Sumber: magnific.com)
Oleh karena itu, kita perlu menyadari pertanyaan “Kapan terakhir kali rasa aman hadir di hari Smart Listeners? bukan hanya untuk dijawab, tetapi juga untuk ditemukan dengan cepat. Mulailah dengan bepergian sendiri atau bergabung dengan komunitas. Intinya, temukan dirimu kembali melalui hal-hal yang tidak mengenalimu.
Penulis: Efraim Ryan Revangga Pakpahan
Editor: Enjang Wikantini
