Smart Listeners, kalau ngampus pakai baju apa?
Lupakan seragam ‘nasional’ mahasiswa berupa kemeja flanel atau polo shirt yang itu-itu saja. Hari ini, pemandangan tersebut kian menghilang. Lorong kampus bukan lagi soal siapa yang paling rapi, tapi siapa yang paling berani mengekspresikan diri.
Kini, mahasiswa yang datang ke kampus tak hanya membawa buku catatan dan laptop. Berjalan di koridor kampus rasanya seperti sedang melihat board Pinterest yang berisi beragam inspirasi OOTD. Dari estetika Y2K yang nyentrik hingga kaos band favorit yang simple, mahasiswa memilih lebih jujur, tak mau tunduk pada gaya formal, dan mengisyaratkan bahwa pakaiannya menjadi pernyataan identitas.
Di balik itu, muncul sebuah dilema: bagaimana agar tetap tampil stylish tanpa meleleh karena cuaca panas?
Indonesia dan iklim tropisnya memang tak bisa dipisahkan. Kemeja formal dan flanel rasanya sudah tak relevan untuk dipakai sepanjang hari. Takut gerah. Dari situ, mahasiswa mulai memutar otak. Mereka tak hanya mengikuti tren, tetapi juga mengedepankan fungsi pakaian itu sendiri.

Tak heran jika pakaian pendek seperti crop top, tank top, hingga off-shoulder semakin populer dan menjadi pilihan favorit mahasiswa. Selain karena tren, pakaian jenis tersebut juga memberikan kenyamanan di antara panasnya cuaca kampus. Namun, apakah mahasiswa boleh menggunakan pakaian yang tidak formal di kampus? Bukankah mahasiswa harus menggunakan pakaian berkerah?
Nah, di sinilah kreativitas itu terbentuk. Mulai muncul lifehack, yakni menyiasati aturan pakaian berkerah dengan tetap memakai kemeja linen/cardigan yang bisa dilepas-pasang sesuai situasi. Saat masuk kelas, kemeja dipakai seperti biasa, lalu dilepas saat berjalan di koridor, makan di kantin, atau lanjut nongkrong. Fleksibel, praktis, tapi tak menghilangkan kesan estetis.
Eits, fashion mahasiswa tak berhenti sampai situ saja lho, Smart Listeners!
Bangkitnya tren nostalgia Y2K tak bisa dipisahkan dari fashion wanita saat ini. Warna-warna cerah, tas bahu mini, mix & match celana denim low rise, hingga aksesori unik kini bisa kita lihat langsung sehari-hari. Nostalgia awal 2000-an ini terasa segar di tengah dominasi gaya minimalis beberapa tahun terakhir.

Di sisi lain, ada kelompok yang berkomitmen terhadap warna hitam dan aksesori logam di tengah terik matahari. Siapa lagi kalau bukan penganut fashion emo, metal, dan gothic? Di balik musik yang menggema, fashion juga menjadi bentuk solidaritas dari komunitas subkultur ini. Kaos band seperti sudah wara-wiri di kampus saat ini. Kemudian ada pula alternative fashion yang sulit didefinisikan, tapi sangat mudah dikenali. Penggunaan aksesori unik seperti rantai, safety pins, hingga chunky boots telah mendobrak standar “rapi” versi generasi sebelumnya.
Kalau outfit masih bisa disiasati, ekspresi lewat rambut warna-warni dan tindik justru jadi pernyataan yang lebih tegas dan sulit disembunyikan. Di lorong kampus, makin banyak mahasiswa dengan rambut merah, biru, atau bahkan kombinasi warna mencolok, lengkap dengan tindik di telinga hingga hidung. Tubuh pun diperlakukan sebagai kanvas ekspresi, meski tetap harus bernegosiasi dengan norma kampus yang kadang belum sepenuhnya menerima tampilan nonkonvensional atau “tak biasa”.

Di balik semua itu, pasti muncul sebuah pertanyaan di benak Smart Listeners. Mengapa harus tampil ‘beda’ meski hanya ke kampus?
Jawabannya satu: penegasan identitas. Kebutuhan untuk menjadi diri sendiri.
Self-love yang selalu digaungkan oleh para aktivis dan influencer di media sosial juga memengaruhi bagaimana seseorang ingin terlihat di mata orang lain. Salah satu caranya adalah dengan fashion. “I am my style,” katanya.
Dalam konteks kampus, mengenakan pakaian sesuai dengan kepribadian bisa meningkatkan keberanian saat presentasi atau sekadar bersosialisasi. Mahasiswa cenderung menilai kampus sebagai safe space, yakni tempat pertama di mana individu punya kontrol penuh atas citra dirinya sebelum masuk ke dunia kerja yang lebih kaku.
Pada akhirnya, fashion di kampus adalah potret kecil dari kebebasan berekspresi. Apa yang kita pakai di lorong kampus bukan sekadar kain/aksesoris yang menempel di badan. Ia adalah bahasa tanpa kata tentang siapa kita dan apa yang kita perjuangkan. Tidak ada satu gaya yang lebih benar daripada yang lain karena semuanya berangkat dari kebutuhan yang sama, yakni ingin merasa nyaman dan autentik.
Fashion tak menghambat kuliah. Smart Listeners tak perlu menjadi rapi secara tradisional untuk dianggap berprestasi. Hal yang terpenting adalah bagaimana Smart Listeners merasa nyaman dengan diri sendiri. Tetaplah berpakaian dengan jujur karena kampus adalah panggung pertama sebelum kita benar-benar menghadapi panggung dunia yang lebih luas.
Penulis: As Syifa Dzihni Nafisa
Editor: Efraim Ryan Revangga Pakpahan

2 Comments